RELA BERBAGI, IKHLAS MEMBERI DEMI MEMAJUKAN PENDIDIKAN DI KOTA BATAM; AYO SEMANGAT...!!!

Rabu, 03 Februari 2016

HASIL MGMP KE-3 SMAN 14 BATAM



HASIL MGMP MATEMATIKA KE-3 SMAN 14 BATAM
Soal UKG
1.                   Menjelaskan karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, dan social emosional (3 soal)
Fisik: Pertumbuhan fisik adalahperubahan –perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin utama(primer) dan ciri kelamin kedua(skunder)
Intelektual:
TAHAP
UMUR (tahun)
CIRI POKOK PERKEMBANGAN
SENSORIMOTOR
0 – 2
Berdasarkan tindakan langkah demi langkah
PRAOPERASI
2 – 7 (s/d SD)
  • Penggunaan simbol/bahasa/tanda
  • Konsep intuitif (insting)
OPERASI KONKRET
8 – 11 (1-5/6 SD)
  • Pakai aturan jelas/logis
  • Reversible ( sebab-akibat)
OPERASI FORMAL
11 ke atas (SMP s/d SMA)
  • Hipotesis
  • Abstrak
  • Deduktif dan induktif
  • Logis dan probabilitas


2.                   Menjelaskan karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek moral dan spiritual (3 soal)
PERKEMBANGAN NILAI DAN MORAL
Perubahan moral yang harus dilakukanoleh remaja adalahsebagai berikut:
1.Pandangan moral individu makin lama makin menjadi abstrak
2.Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah
3.Penilaian moral menjadi semakin kognitif
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan.

STADIUM
ORIENTASI
Prakonvensional
  • Stadium 1

  • Stadium 2

  • Anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman

  • Berlaku prinsip relativistik-hedonism (suka-suka/trial n error)
Konvensional
  • Stadium 3

  • Stadium 4

  • Ingin selalu dianggap menjadi anak baik

  • Tahap mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas
Pasca konvensional
  • Stadium 5


  • Stadium 6

  • Tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial

  • Tahap ini disebut Prinsip universal
 . ASPEK EMOSIONAL

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.

Ciri-ciri emosional remaja adalah:

a.Usia 12 – 15 tahun

1.Pada usia ini anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian lagi karena kebingungannya dalam menghadapi apakh ia masih sebagai anak-anak atau sebagiai orang dewasa.
2. Anak mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal percaya diri
3. Ledakan-ledakan kemarahan mungkin bisa terjadi
4. Remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
5. Siswa-siswa di SMP mulai mengamatiorang tua dan guru-guru mereka secara lebih objektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu.

3.                   Menjelaskan karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan latar belakang sosial budaya (3 soal)
ASPEK SOSIAL

Kehidupan sosial pada masa remaja ditandai oleh hal-hal sebagai berikut:

1.Menonjolnya fungsi intelektual dan emosional

2.Anak mengalami krisis identitas, sehingga mereka ingin mencari jati diri dan teman akrab

3. Pergaulan remaja diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik besar maupun kecil

4.                   Mengidentifikasi penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika
Menurut Hamalik (1982: 139), hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadikan gangguan dalam kemajuan belajar disebut sebagai kesulitan belajar. Selanjutnya kesulitan belajar diartikan oleh Soleh (1999: 35) sebagai kendala-kendala yang menyebabkan ketidakberhasilan dalam belajar.
Jadi dapat dikatakan kesulitan belajar adalah kendala-kendala yang menyebabkan ketidakberhasilan dalam belajar dan mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadikan gangguan dalam kemajuan belajar.

Dalam kenyataan pembelajaran matematika di sekolah masih banyak siswa yang mengalami hambatan dan kendala-kendala dalam menyelesaikan soal, atau dikatakan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Menurut Soleh (1999: 34) karakteristik matematika, yaitu objeknya yang abstrak, konsep dan prinsipnya berjenjang, dan prosedur pengerjaannya banyak memanipulasi bentuk-bentuk ternyata menimbulkan kesulitan dalam belajar matematika. Karakteristik tersebut merupakan bagian dari objek langsung pembelajaran matematika, sehinggga penyebab kesulitan belajar matematika yang dialami siswa dapat diuraikan menurut objek langsung pelajaran matematika sebagai berikut :
a. Fakta
Fakta merupakan perjanjian atau pemufakatan yang dibuat dalam matematika, misalnya lambang, nama, istilah, serta perjanjian. Kaitannya dengan kesulitan belajar matematika siswa, maka siswa sering mengalami kesulitan disebabkan dari adanya lambang-lambang atau simbol, huruf dan kata (Soleh, 1999: 35).
b. Konsep
Konsep merupakan pengertian abstrak yang memungkinkan seseorang menggolong-golongkan objek atau peristiwa (Mohammad Soleh, 1999: 8). Hubungannya dengan kesulitan belajar matematika, maka siswa sering mengalami kesulitan untuk menangkap konsep dengan benar.
c. Prinsip
Prinsip yaitu pernyataan yang menyatakan berlakunya suatu hubungan antara beberapa konsep. Pernyataan itu dapat menyatakan sifat-sifat suatu konsep, atau hukum-hukum atau teorema atau dalil yang berlaku dalam konsep itu (Soleh, 1999: 8). Berkaitan dengan kesulitan belajar yang dialami siswa dalam belajar matematika, maka sering siswa tidak memahami asal usul suatu prinsip, ia tahu rumusnya dan bagaimana menggunakannya, tetapi tidak tahu mengapa digunakan.
d. Skill

Skill merupakan prosedur mempercepat pengerjaan, namun tetap didasari logika yang benar (Soleh, 1999: 8). Ketidaklancaran menggunakan skill/prosedur terdahulu, berpengaruh pada pemahaman prosedur berikutnya.
Kemudian jika ditinjau pendapat Soleh (1998:39), maka ia membagi penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika sebagai berikut :
a. Ketidakmampuan siswa dalam penguasaan konsep secara benar
Ini banyak dialami oleh siswa yang belum sampai ke proses berpikir abstraksi, yaitu masih berada dalam taraf berpikir kongkrit. Siswa baru sampai kepemahaman instrumen (instrumental understanding), yang hanya tahu contoh-contoh tetapi tidak dapat mendeskripsikannya. Siswa belum sampai kepemahaman relasi (relational understanding), yang dapat menjelaskan hubungan antar konsep. Akibatnya siswa semakin mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep lainnya yang diturunkan dari konsep yang belum dikuasainya tadi. Jalan pintasnya ia memberi pengertian sendiri dari konsep-konsep itu, ini disebut miskonsepsi.
b. Ketidakmampuan siswa menangkap arti dari lambang-lambang
Siswa hanya dapat menuliskan dan mengucapkan, sudah tentu siswa tidak dapat menggunakannya. Akibatnya semua kalimat matematika menjadi tak berarti baginya. Jalan pintasnya, memanipulasi sekehendaknya lambang-lambang itu.
c. Ketidakmampuan siswa dalam memahami asal-usulnya suatu prinsip
Siswa tahu apa rumusnya dan bagaimana menggunakannya, tetapi tidak tahu mengapanya. Akibatnya, siswa tidak tahu di mana atau dalam konteks apa prinsip itu digunakan.
d. Siswa tidak lancar menggunakan operasi dan prosedur
Ketidaklancaran menggunakan operasi dan prosedur terdahulu, berpengaruh lagi pada pemahaman prosedur yang berikutnya.
e. Ketidaklengkapan pengetahuan
Ketidaklengkapan pengetahuan ini akan menghambat kemampuannya untuk memecahkan masalah matematika. Sementara itu, pelajaran terus berlanjut secara berjenjang, jadilah matematika suatu misteri.

Dari uraian tersebut di atas dapat diketahui penyebab kesulitan belajar matematika dalam menyelesaikan soal-soal adalah dikarenakan siswa ketidakmampuan siswa dalam menerima objek langsung matematika, sehingga menyebabkan siswa tidak dapat menguasai konsep secara benar, siswa tidak mampu dalam menangkap arti dari lambang-lambang, siswa tidak mampu dalam memahami asal usul suatu prinsip, dan siswa tidak lancar menggunakan operasi dan prosedur.
5.                   Mengidentifikasi penyebab kesulitan siswa dalam meyajikan atau menuangkan gagasan dalam bahasa lisan maupun tulis
·         Guru hendaknya membiasakan siswa banyak bertanya,pengetahuan prasyarat konsep, ,  sabar menunggu jawaban siswa, kesadaran untuk membaca kurang, paradigma guru yang kurang mengayomi siswa.
6.                   Menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran matematika
·         Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
·         Pendekatan scientific 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Menalar/asosiasi, Mengkomunikasikan) model pembelajarannya: PBL, PjBL, DL, Inquiry
·         Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
7.                   Menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran matematika
·         Strategi pembelajaran (langkah-langkah). Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1             Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2             Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3             Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4             Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
                                                                                                                                                                      
8.                   Menggunakan berbagai metode pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran matematika
Metode pembelajaran
Jadi, metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
9.                   Menggunakan berbagai teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran matematika
Teknik Pembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

10.               Menggunakan secara terpadu berbagai strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam pembelajaran matematika



Model Pembelajaran; Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
11.               Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai
·         Pengalaman belajar: Interaksi antara siswa dg sesuatu di luar dirinya dan ada dilingkungannya. Jadi mrp aktivitas/kegiatan yg dilakukan siswa selama pembelajaran
Contoh:
Pengalaman Belajar
- Menyelesaikan soal-soal tentang konversi antar satuan berat
- Menceritakan atau mendemonstrasikan pengalaman menimbang benda dengan satuan kg
- Menceritakan atau mendemonstrasikan pengalaman menimbang benda dengan satuan ons
- Menemukan hubungan antara kg dan ons
- Membaca timbangan benda dalam satuan kg dan gram
- Menemukan hubungan antara kg dan gram
- Menebak/menaksir berat benda dengan memegang benda tersebut terlebih
dahulu
12.               Merencanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
Menurut Winarno (1983) bahwa: pembelajaran adalah proses berlangsungnya kegiatan belajar dan membelajarkan siswa dikelas. Pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru dan siswa dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ali (1992) bahwa pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan strategi-strategi yang telah dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi, pendekatan, prinsip-prinsip dari metode pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran yang efisien dan efektif.
Slameto (2003) yaitu: Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut mengandung pemahaman bahwa belajar berarti bukan hanya sekedar pengetahaun tentang fakta-fakta, melainkan sekaligus terjadi suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar tersebut. Selain pandangan Slameto pandangan lain dikemukakan oleh Sardiman (1992), bahwa belajar adalah ‘berubah yang berarti bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dan lebih khusus adalah berubah terhadap tingkah laku.
13.               Memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran

14.               dst

Profesional
1.1        Menganalisis hubungan berbagai jenis dan bentuk bilangan.
1.2        Menerapkan operasi pada bilangan dan aturannya pada berbagai konteks permasalahan.
1.3        Menganalisis dan menerapkan hubungan pembagi dan sisa pembagiannya
1.4        Menentukan hasil taksiran dari operasi beberapa bilangan
1.5        Menerapkan konsep luas bangun datar dalam menyelesaikan masalah pada kehidupan sehari-hari
1.6        Menentukan perbandingan volume di dalam bangun kubus
1.7        Menerapkan modus ponens, modus tollens dan prinsip silogisme dalam menarik kesimpulan
1.8        Menerapkan logika matematika dalampemecahan masalah yang berkaitan denganpernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor
1.9        Menentukan bangun datar jika diberikan sifatsifatnya
1.10    Menerapkan konsep luas bangun datar dalam menyelesaikan masalah pada kehidupan sehari-hari
1.11    Menentukan perbandingan volume di dalam bangun kubus
1.12    Menganalisis sifat kesejajaran dalam persamaan garis lurus
1.13    Mengidentifikasi suatu pernyataan geometris sesuai dengan aksioma dan teorema yang berlaku
1.14    Menjelaskan pengertian ruang sampel dan kejadian
1.15    Membedakan kejadian majemuk dan tunggal
1.16    Menentukan nilai peluang teoritis suatu kejadian
1.17    Menerapkan konsep peluang kejadian untuk menyelesaikan masalah.
1.18    Menentukan ukuran pemusatan yang tepat untuk mewakili suatu populasi
1.19    Memahami prosedur menentukan median pada data berkelompok
1.20    Memahami prosedur penentuan Modus pada data berkelompok
1.21    Memilih representasi yang tepat dalam penyajian data
1.22    Dapat menggunakan konsep statistika dalam penyelesaian masalah
1.23    Menggunakan pola bilangan dalam barisan atau deret untuk menyelesaikan masalah
1.24    Menemukan pola untuk menyelesaikan masalah sehari-hari
1.25    Menerapkan konsep fungsi untuk menyelesaikan masalah.
1.26    Menerapkan konsep komposisi fungsi dan invers fungsi dalam menyelesaikan masalah nyata.
1.27    Menentukan model matematika dari masalah nyata
1.28    Mengaplikasikan konsep program linear dalam menyelesaikan masalah nyata
1.29    Mengaplikasikan konsep barisan dan deret aritmetika /geometri dalam menyelesaikan masalah nyata
1.30    Menggunakan diskriminan untuk menyelesaikan masalah persamaan kuadrat
1.31    Menggunakan sifat limit fungsi untuk menghitung bentuk tak tentu fungsi aljabar dan trigonometri
1.32    Menghitung integral tak tentu dan integral tentu dari fungsi aljabar dan fungsi trigonometri yang sederhana
1.33    Menggunakan pengertian atau sifat notasi sigma dalam memecahkan masalah matematika

Hormat Kami
Tim MGMP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar